Muhammad Yasin Sang “Proklamator Brimob”
Moehammad Jasin lahir di Bau-Bau, Buton, Sulawesi pada 9 Juni 1920. Ia berasal dari keluarga yang menanamkan nilai pendidikan.
dan pengabdian. Sejak muda, Jasin menempuh pendidikan di Volkschool, lalu melanjutkan ke HIS di Makassar dan MULO. Setelah itu, ia memilih jalan pengabdian melalui pendidikan kepolisian, termasuk belajar di Sekolah Polisi Sukabumi pada 1941. Pendidikan ini membentuk karakter disiplin, keberanian, dan kepemimpinannya sejak usia muda.
Pada masa pendudukan Jepang, Jasin terlibat dalam satuan Tokubetsu Keisatsutai atau Polisi Istimewa. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ia mengambil sikap tegas dengan memihak Republik Indonesia. Di Surabaya, Jasin memimpin langkah penting dengan mengambil alih kendali Polisi Istimewa dari tangan Jepang, memutus jalur komunikasi pimpinan Jepang, dan menempatkan kepolisian di pihak perjuangan nasional. Tindakan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah kepolisian Indonesia.
Nama Moehammad Jasin sangat lekat dengan sejarah Pertempuran Surabaya 10 November 1945. Saat itu, pasukan Polisi Istimewa di bawah komandonya ikut berada di garis depan dalam perlawanan terhadap pasukan Inggris dan Sekutu. Mereka terlibat dalam pelucutan senjata Jepang, pengamanan kota, dan perjuangan bersama rakyat mempertahankan kemerdekaan. Karena keberanian serta kepemimpinannya, Jasin dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang menjadikan kepolisian bukan hanya alat keamanan, tetapi juga bagian dari kekuatan perjuangan bangsa.
Peran terbesar Jasin dalam sejarah Polri adalah keterlibatannya sebagai perintis dan pendiri satuan yang menjadi cikal bakal Brimob. Setelah kemerdekaan, kepemimpinan Polisi Istimewa berada di bawah kendali Inspektur Polisi Tingkat I Mohammad Jasin. Kemudian pada 14 November 1946, berbagai kesatuan seperti Polisi Istimewa, Barisan Polisi Istimewa, dan Pasukan Polisi Istimewa dilebur menjadi Mobile Brigade (Mobrig). Inilah akar historis satuan Brimob yang kita kenal sekarang. Karena jasa itulah, Jasin dikenang sebagai Bapak Brimob Polri.
Sesudah masa revolusi, karier Moehammad Jasin terus berkembang. Ia memimpin berbagai operasi penting, termasuk menghadapi pemberontakan seperti PKI Madiun, serta terlibat dalam penanganan berbagai ancaman terhadap kedaulatan negara. Selain berkiprah di kepolisian, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Tanzania pada 1967–1970, anggota MPR, dan anggota Dewan Pertimbangan Agung. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdiannya tidak hanya di bidang keamanan, tetapi juga diplomasi dan kenegaraan.
Moehammad Jasin wafat pada 3 Mei 2012 di RS Polri Kramat Jati, Jakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan institusi kepolisian, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 2015 melalui Keppres No. 116/TK/Tahun 2015. Ia tercatat sebagai tokoh kepolisian pertama yang menerima gelar kehormatan tersebut.
Warisan terbesar Moehammad Jasin adalah teladan tentang keberanian, disiplin, nasionalisme, dan kesetiaan kepada rakyat serta negara. Bagi sejarah Indonesia, ia bukan hanya seorang perwira polisi, tetapi simbol bahwa kepolisian dapat berdiri tegak sebagai pembela bangsa pada masa-masa paling genting. Karena itu, nama Moehammad Jasin tetap dihormati dalam sejarah Polri dan perjuangan kemerdekaan Indonesia

Comments
Post a Comment